HARI VETERAN
HARI TEKNOLOGI
HARI PRAMUKA
HUT RI 80 2025
HUT KONSTITUSI
HARI DEPLU
HARI PERUMNAS
HARI POLWAN
HARI HKAN
HARI DW

Mukomuko Dalam Bungkus Media Dan Medsos

 

OooH…Kapuang Sati Ratau Batuah,Apa Yang akan Terjadi Padamu Nanti……? (bagian I)

Mukomuko (MM), daerah yang dulu merupakan sebuah kecamatan tergabung dengan Kabupaten Bengkulu Utara (BU) atau dikenal dengan sebutan Argamakmur. Namun perlahan dengan semakin pesatnya penambahan jumlah penduduk disertai pertumbuhan ekonomi di bidang industri dan perkebunan, sudah semestinya Mukomuko menjadi daerah yang mandiri. Dengan semua elemen masyarakat dari berbagai suku yang mendiami daerah ini, untuk menjadikan Mukomuko sebuah kabupaten, berbaur menjadi satu berjuang bersama menjadikan Mukomuko sebuahKabupaten baru. Berkat bersatunya seluruh masyarakat, Mukomuko yang di kenal dengan sebutan Kapuang Sati Ratau Batuah ini, berhasil berpisah dan di mekarkan menjadi sebuah kabupaten baru, setelah di setujui oleh Presiden RI ke 5 Megawati Soekarno Putri dan Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno pada tahun 2003 sekitar 18 tahun silam.
Namun sering jalan Mukomuko yang terkenal dengan keramahan dan kekompakkan masyarakatnya dari berbagai suku yang ada mulai terkikis secara perlahan. Semua ini terjadi karena ulah para oknum – oknum elit politik bersama kroco – kroco nya, menebarkan isu kebencian, permusuhan dan mengkotak – kotakan masyarakat Mukomuko yang selama ini penuh dengan kekompakkan dan persatuan. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi semua isu politis yang di duga akan membuat perpecahan masyarakat Mukomuko tersebar setiap harinya di dunia maya, jika hal ini terus di biarkan, maka apakah yang akan terjadi dengan daerah yang sangat kita cintai ini……?
Berikut tapak tilas perjalanan Kapuang Sati Ratau Batuah menjadi sebuah Kabupaten.

Suara Rakyat Kuasa.com , Mukomuko
Masih terbayang di dalam ingatan kita semua kejadian belasan tahun silam, bagaimana hiruk – pikuk perjuangan semua masyarakat Mukomuko dalam menyatu pikiran dan tenaga untuk memekarkan daerah ini, dengan tujuan tidak ada lain demi kesejahteraan masyarakat tahun 2000 hingga 2003. Pada saat itu semua para tokoh orang tua dan pemuda Mukomuko dari berbagai suku, penduduk asli Mukomuko, Suku Jawa, Minang, Batak, Sunda, Bali, dan suku Rejang tidak ada perbedaan dan status, baik masyarakat yang bekerja sebagai PNS dan petani, semuanya bersatu memberikan sumbangsih dalam perjuangan pemekaran Mukomuko. Salah satu bentuk dukungan dari semua elemen masyarakat Mukomuko untuk sebuah pemekaran, masyarakat dengan sukarela dan bersama – sama memberikan sumbangan materi untuk biaya para tokoh pemekaran yang mewakili masyarakat Mukomuko, untuk berangkat ke Ibu Kota (Jakarta) menemui Presiden Megawati dan Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, membawa harapan masyarakat misi pemekaran wilayah untuk kesejahteraan masyarakat Mukomuko. Pada akhirnya semua harapan seluruh elemen masyarakat dan perjuangan para tokoh masyarakat Mukomuko berbuah hasil. Tepat sekitar tanggal 23 Februari tahun 2003 atas persetujuan Presiden dan Menteri Dalam Negeri RI, Mukomuko yang selama ini terdiri dari Kecamatan Mukomuko Utara, Kecamatan Mukomuko selatan, Kecamatan Teras Terunjam Dan Kecamatan Lubuk Pinang, resmi berpisah dari Kabupaten Bengkulu Utara di mekar kan menjadi sebuah daerah mandiri yakni Kabupaten Mukomuko dengan julukan Kapuang Sati Rantau Batuah.

Setelah resmi menjadi sebuah Kabupaten, semua elemen masyarakat Mukomuko mempercayakan pucuk pimpinan Caretaker Bupati kepada salah seorang tokoh pemekaran H. Amandeka Amir hingga masa akhir 12 Agustus 2005. Pada tahun 2005 Kabupaten Mukomuko memulai pemilihan langsung baik itu Pilkada dan Legislatif, sehingga terpilih H. Ichwan Yunus Putra asli Mukomuko dan H. Supardji sosok guru senior dan juga tokoh masyarakat dari suku Jawa. Sedangkan anggota legislatif terpilih dari berbagai suku yang ada di Kabupaten Mukomuko. Selanjutnya pada Pilkada tahun periode kedua, nuansa aroma politik mulai sedikit panas, namun persatuan masyarakat dari berbagai suku masih kuat terjalin di tengah masyarakat Mukomuko.

Nuansa panas awalnya hanya sekedar riak kecil pada pilkada periode sebelumnya, saat pilkada periode ke 3 tahun 2015 nuansa dan aroma politik mulai sedikit panas di tengah masyarakat. Berbagai isu politis baik itu isu kesukuan, dan agama dikembangkan oleh oknum – oknum para elit politik MM dan kroco – kroco yang boleh dikatakan “kelas kacangan”. Merebaknya berbagai isu mengatas namakan kesukuan tersebut mulai berkembang, sedikit demi sedikit memunculkan perpecahan kerukunan masyarakat MM yang selama ini terjalin erat, mulai ter kotak – kotak karena masyarakat terhasut isu pemecah belah itu.Pada Pilkada MM ke 4 tahun 2020, semua isu jahat itu kembali dimainkan oleh para politik “kelas Kacangan” di tengah elemen masyarakat Mukomuko, sehingga riak – riak kecil awalnya, sekarang menjadi semakin besar dan kian panas.

Perpecahan demi perpecahan masyarakat Mukomuko akibat ulah oknum penyebar kebencian yang tidak bertanggung jawab saat ini semakin menjadi – jadi dan bertebaran melalui dunia maya (jaringan Internet).
Dimintai tanggapan beberapa orang masyarakat Mukomuko terkait mau dibawa kemana Kabupaten Mukomuko jika oknum penyebar isu – isu penuh kebencian yang membuat timbulnya perpecahan masyarakat Mukomuko yang selama bersaudara.

Ali Ibni salah seorang tokoh agama muda Kabupaten Mukomuko, sangat bersimpati dengan kondisi masyarakat Mukomuko saat ini, terlebih para pemuda yang mulai terpengaruh dengan hasutan dan penyebaran isu yang mengarah timbulnya perpecahan di kalangan masyarakat awam yang selama ini hidup rukun dan damai. Apalagi saat ini teknologi semakin canggih, penyebaran isu kebencian sangat mudah tersebar di media internet. Salah satu solusi yang harus dilakukan untuk meredam penyebaran isu penuh kebencian tersebut, harus secara bersama – sama memberikan bimbingan kepada masyarakat baik bidang agama, sosial dan moral pancasila.

”Yang terpenting itu memberikan pencerahan dan bimbingan kepada anak – anak, pemuda sebagai generasi masa depan, agar jangan termakan isu – isu yang membuat kerukunan kita selama ini terpecah oleh ulah segelintir oknum. Hal ini tidak lepas dari tanggung jawab semua pemangku jabatan di daerah ini, baik itu pihak pemerintahan baik tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, tokoh agama, tokoh adat dari seluruh suku yang ada di Mukomuko dan pihak guru, dengan cara duduk bersama membahas hal ini secepatnya. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Mukomuko, mari tetap kita jaga silaturahmi persaudaraan yang telah tercipta selama ini, dengan cara jangan terpengaruh dan terpropokasi dengan isu – isu pemecah belah persaudaraan yang tersebar di media sosial maupun tindakan tersebut. Kita semua sama di dunia ini, kita hanya menumpang di bumi milik Allah. Mari kita jaga kerukunan, kedamaian dan persatuan kita untuk kedepannya,”pinta Ali Ibni.

Sementara itu, Lukman Hardoyo (40) tahun petani asal Desa Tanjung Mulya (SP 9) Kecamatan XIV Koto, yang juga salah seorang penikmat media sosial, mengaku heran dengan semua isi media sosial penuh dengan hujatan dan isu kebencian antar golongan akibat politik selama ini. Seperti isu ujaran kebencian dari pendukung si A menjelekkan kinerja B, dan pendukung C menjelekkan kebijakan D dalam menjalankan roda pemerintahan. Hal seperti ini harus cepat dilakukan di selesaikan jangan sampai niat awal pemekaran Kabupaten Mukomuko untuk kesejahteraan masyarakat, bisa tercoreng dengan isu kebencian yang di sebarkan oleh oknum yang tidak bertangung jawab. Kapuang Sati Ratau Batuah ini bukan milik si A, B, C ataupun D beserta para pendukungnya. Mukomuko adalah milik semua masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras yang jauh sebelumnya bersatu untuk menjadikan daerah sebuah kabupaten baru.

“Jika kita perhatikan di media sosial bebagai hal isu – isu yang mengarah kebencian tersebar luas dan dapat baca oleh semua kalangan, baik anak – anak, pemuda dan orang tua. Ini menjadi PR bagi kita semua, jika terus di biarkan isu – isu politis ujaran kebencian dengan membawa nama suku dan agama dari pihak A ke pihak B dan C ke D menjadi konsumsi anak – anak dan pemuda selaku generasi penerus, maka ancaman perpecahan di tengah masayarakat Mukomuko kedepannya akan terjadi. Kita harus mencari solusi agar silaturahmi dan kerukunan kita selama ini terjalin kembali tanpa ada embel – embel politis. Saya secara pribadi mengajak semua masyarakat Mukomuko mari kita lupakan masalah pilkada kemarin, tidak ada lagi isntilah pendukung ini pendukung itu, barisan ini barisan itu. Kita harus kembali tujuan awal pemekaran daerah ini untuk kesejahteraan masyarakat Mukomuko. Semoga harapan kita semua bisa terwujud kedepannya, semua untuk generasi kita masa depan,” harapan Lukman.

Sementara dimintai tanggapan dari sosok yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik, dan juga pemerhati medsos sekaligus ketua DPD SPRI Provinsi Bengkulu, mengajak semua pihak Media yang ada di MM, dalam  untuk menjaga keadaan kondusif, tidak memancing riak masyarakat menjadi konflik dengan karya jurnalisnya. pemerintah daerah juga harus ikut andil dan sadar sebagain jabatan politik pemda harus mengakomodir seluruh suku dan ras di MM agar tetap bersatu dan rukun.

“Saya melihat perlunya campur tangan semua pihak, untuk meredamkan apa yang menjadi riak di tengah masyarakat. Apalagi dalam waktu dekat akan dilaksanakan pemilu. Riak perpecahan sudah mulau muncul di medsos. Saya mengajak semua masyarakat agar lebih pintar ber medsos dengan cara tidak terpancing dengan akun – akun siluman yang menebarkan ujar kebencian.mari kita jaga daerah kita dari perpecahan masyarakat (top)

Sebuah pesan dari salah satu
OoooH…Kapuang Sati Ratau Batuah,Apa Yang akan Terjadi Padamu Nanti……? (Bersambung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hindari Plagiat..!!  Maaf Tidak di Izinkan Untuk Copy Konten

error: Content is protected !!